5 Kebiasaan Keuangan yang Harus Hilang di Tahun 2026
Tahun baru resolusi baru. Biasanya seperti itu.
Resolusi yang di tahun 2025 tak terwujud, banyak yang memasukkannya di tahun ini. Tapi, tak sedikit pula yang memilih meninggalkannya sama sekali dan membuat resolusi yang benar-benar fresh. Kalau melakukan refleksi diri, kira-kira sudah tahu belum hal-hal yang membuat niat baik tersebut nihil realisasinya? Mungkin, jawabannya ada di salah satu dari lima kebiasaan keuangan yang harus dihilangkan di tahun 2026:
- Terlalu sering “nombok” dengan pinjam uang ke orang terdekat.
Data dari OCBC Financial Fitness Index 2025 menunjukkan bahwa 39 persen masih sering meminjam uang ke teman atau keluarga, yang digunakan untuk memenuhi gaya hidup. Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari masyarakat yang masih mengadopsi gaya hidup seperti peribahasa “lebih besar pasak daripada tiang”.
- Gaji baru masuk, uangnya langsung pergi gitu aja.
14 persen masyarakat memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan. Saat pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, kondisi ini biasanya bukan hanya soal kurangnya penghasilan, tetapi disebabkan juga oleh gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan. Kalau dibiarkan, bagaimana mau berinvestasi untuk masa depan, jika menabung saja sulit?
- Merasa aman karena pakai mindset “yang penting bayar dulu”.
Membayar tagihan kartu kredit dengan nominal paling minimum mungkin terasa melegakan, tapi hanya untuk jangka pendek. Karena, sebenarnya kebiasaan ini bisa menjadi jebakan finansial untuk ke depannya. Data Financial Fitness Index 2025 dari OCBC menunjukkan bahwa 56 persen hanya membayar tagihan minimum kartu kreditnya. Jika dibiarkan, kartu kredit yang semula jadi alat bantu justru berubah menjadi beban jangka panjang.
- FOMO (Fear of Missing Out) yang berlebih.
Iya sih, tekanan sosial memang punya pengaruh yang besar terhadap keputusan finansial seseorang. Tapi, bukan berarti harus selalu ikuti apa yang dilakukan teman-teman kita! Menurut data Financial Fitness Index OCBC 2025, 76 persen menghabiskan uang yang dimiliki unuk mengikuti gaya hidup teman. Mulai dari nongkrong bersama, liburan, hingga tren belanja membuat seseorang banyak mengorbankan keuangannya demi merasa “tidak ketinggalan”. Padahal, sifat ini membuat kamu bisa kehilangan kendali atas tujuan finansial jangka panjang.
- Mau jalan pintas demi cuan instan.
Dengan maraknya cerita di sosial media terkait bagaimana cara sukses instan, pastinya keinginan untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat seringkali menggoda. Apabila keinginan ini diwujudkan tanpa pemahaman risiko, seringkali berujung pada kerugian. 10 persen dari masyarakat menurut data OCBC Financial Fitness Index 2025 melakukan spekulasi berlebihan untuk keuntungan yang instan.
Kalau dilihat, mungkin salah satu atau dua pernah menjadi bagian dari keseharian kita.